Pensi Paling Anarki dan Berdarah

diambil dari yahoo groups

molenfriends molenfreaks <molenvlietronic@ yahoo.com> wrote:       

Dear Milis,

 

 

 

Fashionatic
: Fusion yang digeber Sabtu (13/1) bisa jadi disebut sebagai ‘Pensi
Paling Anarki dan Berdarah’ sepanjang riwayat pagelaran musik yang
diselenggarakan oleh sekolah tingkat SMA. Arogansi petugas keamanan dan
massa yang tidak terkendali menjadikan pesta yang seharusnya
berlangsung menyenangkan menjadi petaka di Plasa Barat Senayan, Jakarta.
Tidak hanya buat SMAN 44 sebagai penyelenggara, tetapi juga buat band
pengisi acara, penonton, dan juga petugas keamanan yang didapuk oleh
Brimob dan Satpol PP (kalo dilihat dari kostum). Diduga, beringasnya
massa yang berhasil menjebol pagar pembatas pintu masuk mendapat
tambahan tenaga dari supporter sepak bola yang kelar menyaksikan
pertandingan Indonesia
VS Singapura di waktu yang sama. Berikut, kami informasikan kronologis
pensi berdarah tersebut dari sudut pandang kami sebagai pengisi acara.

 

 

Sore
itu, cuaca sangat cerah, sekitar pukul 16.30 kami beserta kru sudah
sampai di Pintu Utama I, yang merupakan akses masuk untuk pengisi acara
maupun panitia untuk stay di back stage. Dijadwalkan, kami akan tampil
setelah Kuro! sekitar pukul 18.30. Begitu masuk menuju back stage, kami
sempat melihat segerombolan orang dengan atribut salah satu kesebelasan
lokal ‘memohon’ kepada panitia yang berjaga di pagar belakang back
stage untuk bisa masuk. Karena panitia tidak menuruti kemauan mereka,
sempat terdengar beberapa cacian, seperti “Pelit!” dan “Ngent*t!”.
Cacian tersebut ditanggapi panitia dengan santai.

 

 

Di
dalam venue, crowd yang tadinya ‘sunyi’ langsung dipanasi oleh
penampilan Kuro! setelah break maghrib menjeda acara. Dengan beberapa
anthem yang sepertinya sudah familiar di telinga crowd, Kuro!
menyelesaikan penampilannya dengan penuh kesan. Di tengah penampilan
Kuro!, Chandra (Kibordis) yang seharusnya stay di sisi panggung untuk
siap tampil malah jalan-jalan menuju pintu tiket masuk karena ingin
menemui salah satu temannya yang kesusahan masuk, karena takut dengan
anjing-anjing yang dibawa oleh petugas keamanan. Berdasarkan
penuturannya, dia mengaku sudah punya firasat buruk mengenai acara
tersebut. “Gue lihat, aparat mencak-mencak dan juga sepertinya ada aksi
pukul. Yang parah, malah tiket box bagian atapnya terbakar. Mungkin
dibakar oleh massa yang berusaha menjebol pintu masuk.”

 

 

Berusaha
menenangkan hati, kami yang mendengar penuturan Chandra, menggangap itu
adalah hal yang ‘wajar’ terjadi di arena pensi. Maka kami pun memainkan
beberapa track dari album “Night & Day” dan tanpa mengira sesuatu
yang buruk begitu dekat dengan kami dan semua yang terlibat di dalam
pensi tersebut. Begitu kelar tampil, sambil berganti kostum kami stay
di back stage melihat beberapa penampil selanjutnya, seperti Hekta, dan
Waria Sok Aksi.

 

 

Selesai
tampil, Chandra yang penasaran dengan situasi sebelumnya, kembali
menuju ke pintu masuk tiket box. Benar saja, suasana makin ‘panas’.
Aksi teriak2 dan dorong terjadi di bibir pintu masuk. Aparat yang
berjaga memperlihatkan raut tegangnya. Nah, ketika mencoba kembali ke
back stage, ternyata kibodis kami ini mengalami kejadian tidak
mengenakkan dengan aparat yang berjaga di pintu pembatas back stage.
Dia sama sekali tidak diperkenankan masuk. Meskipun id sebagai pengisi
acara sudah diperlihatkan, namun aparat tersebut tetap tidak bergeming
dan malah mengeluarkan ucapan yang tidak mengenakan dan mengancam akan
memukul dengan pentungan yang digenggam. Kesal dengan ancaman si
aparat, Chandra yang kebetulan seorang wartawan, langsung mengeluarkan
kartu pers yang dibawanya. Dipamerkannya ‘kartu sakti’ tersebut bukan
dikarenakan ingin sok aksi, tetapi, “Gue kesel aja. Masa panitia gotong
orang pingsan tetap gak boleh masuk. Malah aparat goblok itu gak
henti-hentinya bilang ‘kalo gak ada saya acara ini gak bakal aman’.
Norak dan kurang edukasi tuh orang!” ungkap Chandra dengan nada kesal.
Untungnya, beberapa teman aparat itu berhasil membujuknya. Gak lama,
gembok pun dibuka.

 

 

Melihat
arena back stage malam itu, seolah melihat tempat evakuasi korban
kerusuhan. Setiap hampir lima menit sekali, panitia menggotong korban
luka-luka, pingsan, dan menangis. Yang menyeramkan, ada seorang cewek
yang tangan kanannya berlubang, seperti ditusuk belati. Di momen ini,
terlihat sekali wajah-wajah tegang para panitia. Namun, ketegangan itu
sedikit sirna dengan hebohnya penampilan Trio Macan yang mendapatkan
sambutan luar biasa malam itu. Sayang, itu tidak berlangsung lama. Di
tiap detik penampilannya, pada pintu masuk terjadi aksi dorong. Seperti
yang terdengar di HT (handy-talkie) yang dibawa panitia.

 

 

Sekelar
Trio Macam tampil, suasana makin gawat. Dari HT yang terdengar, pintu
masuk telah berhasil dijebol oleh ribuan massa. Ironisnya, ditengah
kemelut tersebut, aparat malah melarikan diri ke back stage. “Tolong
dong, pada kumpul. Parah nih! Pintu depan udah dijebol ribuan orang.
Petugas pada kabur!” begitu salah satu bunyi HT panitia. Disaat itu
pula, panitia cewek diminta mengamankan diri. Melihat gelagat tersebut,
kami akhirnya terpaksa mengurungkan niat untuk menyaksikan The Upstairs
dan memilih untuk pulang. Dengan prakiraan, jika rusuh biasanya akan
ada bakar2an dan pengrusakan kendaraan yang berada di sekitarnya.
Kebetulan, sebagian besar dari kami menggunakan motor. Jadi, kami lebih
milih menyelamatkan asset kami dibandingkan jadi korban pengrusakan.

 

 

Tak
lama kami melangkahkan kaki keluar, ternyata pagar pembatas back stage
dijebol. Suasana tersebut membuat kami tidak mengenali yang mana
panitia, penonton, dan pengisi acara, karena sudah bercampur baur.
Sekarwati yang sekiranya tampil, langsung mengurungkan niatnya karena
massa kian beringas dan naik ke atas panggung. Seperti yang terlihat di
beberapa berita TV, massa yang tidak terkendali memanfaatkan momen
tersebut untuk melakukan pencurian di beberapa booth yang ada, dan
malah alat musik di atas panggung jadi sasaran.

 

 

Tidak
cuma itu saja, ketika kami menuju parkir motor yang berada tak jauh
dari venue, ternyata beberapa helm yang kami bawa telah dicuri dengan
paksa sehingga merusak beberapa bagian motor. Malah, beberapa tangan
iseng juga menyebabkan motor yang kami bawa tidak bisa jalan karena
pipa businya dicuri. Rupanya, tidak cuma kami saja yang mengalami
kejadian tersebut. Beberapa pemilik motor yang memarkirkan motor di
tempat yang sama juga mengalami hal yang tidak jauh berbeda dengan
kami. Akhirnya, dengan sedikit nekat kami pulang dengan tiada helm di
kepala.

 

 

Esoknya,
baru kami ketahui dari beberapa media pemberita, bahwa pensi tersebut
berakhir dengan kerusuhan yang merusakan beberapa mobil, bis, dan juga
motor. Tidak hanya penonton yang terluka, aparat keamanan juga
mengalami hal yang sama. Tidak bisa dipungkiri lagi, panitia sudah
dipastikan merugi secara material maupun citra. Hanya karena kejahatan
segelintir orang, pensi yang seharusnya berakhir dengan suka cita harus
ditutup dengan penuh sesal. Semoga banyak hikmah yang bisa diambil dari
peristiwa ini.

 

 

=MOLENVLIET=

 

www.myspace. com/molenvlietband

One Response to “Pensi Paling Anarki dan Berdarah”

  1. -Danial- Says:

    Gokil bgt, men..acaranya emang baru ya?

    BTW, Kuro! itu siapa sih?

Leave a Reply